Dalam
kehidupan sehari-hari air merupakan sumberdaya penting, baik dalam kehidupan
rumah tangga maupun dalam menunjang pembangunan ekonomi seperti di sektor
pertanian (dalam arti luas), industri, pariwisata, transportasi, pembangkit
listrik dan sebagainya. Tumbuh-tumbuhan (vegetasi) dan hutan merupakan salah
satu faktor yang berpengaruh terhadap tata air. Hutan tidak hanya memproduksi
kayu dan hasil hutan tetapi memiliki fungsi dalam tata air. Terjadinya
kekeringan dimusim kemarau dan terjadi bencana banjir di musim penghujan hampir
selalu dikaitkan dengan kondisi fisik hutan dan vegetatifnya terutama di daerah
hulu sungai, meskipun tidak sepenuhnya benar. Hal ini masuk akal juga karena
hutan dengan karakteristiknya yang multi dimensi dapat berfungsi sebagai
pengatur siklus air.
Dalam tanah pada musim penghujan akan menjadi sumber Dimulai dari air hujan yang jatuh sebagian akan terintersepsi oleh vegetasi hutan dan disimpan dalam lapisan tajuk, batang, dahan dan ranting serta serasah yang ada di lantai hutan dan sebagian terinfiltrasi ke dalam tanah sehingga aliran permukaan (surface run off) akan sangat berkurang. Air yang masuk dalam tanah akan mengalami proses yang sangat panjang dan komplek yang memakan waktu lama sebelum sampai dilaut sehingga rantai siklus air menjadi panjang, akibatnya aliran permukaan yang berlebihan yang dapat menyebabkan banjir di musim hujan tidak terjadi. Sebaliknya banyaknya air yang dapat disimpan air yang tersedia bagi berbagai macam kehidupan di musim kemarau sehingga bencana kekeringan jugatidak akan terjadi.
Siklus
air yang memungkinkan terhindarnya banjir dan kekeringan tidak akan terjadi
jika kondisi hutan dan vegetasinya terutama di daerah hulu, tidak memadai
apalagi dalam kondisi kritis, pada kondisi ini sebagian besar air hujan akan
menjadi aliran permukaan yang akan terkumpul dalam aliran-aliran sungai dengan
kecepatan aliran yang sangat tinggi. Tingginya kecepatan aliran permukaan ini
selain berpotensi menjadi banjir juga akan menghanyutkan lapisan atas tanah
(top soil) yang subur sehingga akibatnya akan memperparah kondisi lahan
tersebut.
Namun
apa yang terjadi jika siklus air di kawasan hulu menjadi tidak normal karena
diakibatkan adanya interaksi manusia dan aktivitasnya yang mengexploitasi alam
dengan tidak teratur maka yang terjadi adalah aliran permukaan (surface run
off) menjadi berlebihan dan akan berdampak negatip misalnya erosi, sedimentasi,
longsor dan banjir. Bahkan bencana longsor dan bencana banjir sering kali
membawa kerugian harta benda dan korban jiwa. Untuk
mendeteksi dini dari kegagalan siklus air terutama dikawasan hulu, salah
satunya yaitu dengan cara mendirikan Stasiun Pengamat Lingkungan (SPL)
ditempat-tempat yang dianggap strategis.
SPL CURAH HUJAN
SPL EROSI

.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar