Pages

Sabtu, 26 Mei 2012

Kelola Lingkungan

     Dalam kehidupan sehari-hari air merupakan sumberdaya penting, baik dalam kehidupan rumah tangga maupun dalam menunjang pembangunan ekonomi seperti di sektor pertanian (dalam arti luas), industri, pariwisata, transportasi, pembangkit listrik dan sebagainya. Tumbuh-tumbuhan (vegetasi) dan hutan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap tata air. Hutan tidak hanya memproduksi kayu dan hasil hutan tetapi memiliki fungsi dalam tata air. Terjadinya kekeringan dimusim kemarau dan terjadi bencana banjir di musim penghujan hampir selalu dikaitkan dengan kondisi fisik hutan dan vegetatifnya terutama di daerah hulu sungai, meskipun tidak sepenuhnya benar. Hal ini masuk akal juga karena hutan dengan karakteristiknya yang multi dimensi dapat berfungsi sebagai pengatur siklus air.

      Dalam tanah pada musim penghujan akan menjadi sumber Dimulai dari air hujan yang jatuh sebagian akan terintersepsi oleh vegetasi hutan dan disimpan dalam lapisan tajuk, batang, dahan dan ranting serta serasah yang ada di lantai hutan dan sebagian terinfiltrasi ke dalam tanah sehingga aliran permukaan (surface run off) akan sangat berkurang. Air yang masuk dalam tanah akan mengalami proses yang sangat panjang dan komplek yang memakan waktu lama sebelum sampai dilaut sehingga rantai siklus air menjadi panjang, akibatnya aliran permukaan yang berlebihan yang dapat menyebabkan banjir di musim hujan tidak terjadi. Sebaliknya banyaknya air yang dapat disimpan air yang tersedia bagi berbagai macam kehidupan di musim kemarau sehingga bencana kekeringan jugatidak akan terjadi.

    Siklus air yang memungkinkan terhindarnya banjir dan kekeringan tidak akan terjadi jika kondisi hutan dan vegetasinya terutama di daerah hulu, tidak memadai apalagi dalam kondisi kritis, pada kondisi ini sebagian besar air hujan akan menjadi aliran permukaan yang akan terkumpul dalam aliran-aliran sungai dengan kecepatan aliran yang sangat tinggi. Tingginya kecepatan aliran permukaan ini selain berpotensi menjadi banjir juga akan menghanyutkan lapisan atas tanah (top soil) yang subur sehingga akibatnya akan memperparah kondisi lahan tersebut.
    Namun apa yang terjadi jika siklus air di kawasan hulu menjadi tidak normal karena diakibatkan adanya interaksi manusia dan aktivitasnya yang mengexploitasi alam dengan tidak teratur maka yang terjadi adalah aliran permukaan (surface run off) menjadi berlebihan dan akan berdampak negatip misalnya erosi, sedimentasi, longsor dan banjir. Bahkan bencana longsor dan bencana banjir sering kali membawa kerugian harta benda dan korban jiwa. Untuk mendeteksi dini dari kegagalan siklus air terutama dikawasan hulu, salah satunya yaitu dengan cara mendirikan Stasiun Pengamat Lingkungan (SPL) ditempat-tempat yang dianggap strategis.


SPL CURAH HUJAN

Stasiun pemantau Curah Hujan sangat mem-bantu memantau perkembang-an cuaca khususnya mengukur curah hujan untuk lahan Hutan dan pertanian. “Keberadaan stasiun pe-mantau hujan sangat perlu antara lain menginformasikan kondisi ketersediaan air untuk persawahan dapat terdeteksi lebih awal, Bagi Perhutani sendiri Kegiatan Pengelolaan Hutan yang selama ini dilaksanakan tidak terlepas dari upaya pemantauan lingkungan, hal ini guna memberikan performa langkah-langkah perbaikan apabila diperlukan untuk pengelolaan hutan lebih lanjut.


SPL EROSI





























Tidak ada komentar:

Posting Komentar